Senin, 02 Februari 2015

Di Satu Sesap Terakhir Kopi yang Getir

Dear Fajar,

Senin kali ini terbuat dari cat abu-abu yang ditumpah sembarang, persis judul buku erotis si penulis inggris. Tapi aku lebih senang menyebutnya senin yang biru seperti baris lagu pertama sebuah band yang juga dari inggris dan memiliki album dengan nama yang juga sedikit erotis. Aku menyukai bagaimana kesedihan berubah nama menjadi warna. Sambil mengira ngira jika kita bukan sekadar hitam dan putih, apa warna kita?

Lebih jauh lagi, aku sungguh ingin tahu apa warna kesibukan. Hal yang kadang kutemui ada di antara banyak alasan dalam perpisahan. Mungkin saja, Fajar, mungkin saja ia berwarna hitam pekat, serupa kopi yang tinggal seteguk sebelum bertemu ampas.

Selain kopi cangkir pertama, aku hanya bisa menamatkan dua gelas air putih. Dan tulisan ini hanya sempat diburu dalam detik yang sedikit lapang ketika sibuk meregang dan kantuk yang tek berhenti menyerang sebab waktu tidur malam tadi yang tak panjang. Tapi, Fajar, di sesap terakhir sebelum kopiku bertemu ampas, aku sungguh sungguh ingin menyapanya. Sekadar bertanya, sudahkah ia menyelamatkan lambungnya hari ini? Sebab rindu begitu buncah ketika senja. Selalu begitu, entah kenapa.

Minggu, 01 Februari 2015

Januari dan Hal-Hal yang Terlalu Dini untuk Selesai

Dear Fajar,

Kau tahu betapa gilanya aku, kan? Rela mengulur waktu demi mendekap Januari lebih lama. Begitulah aku semalam tadi. Terjaga sampai di angka dua, persis sebulan lalu.

Beberapa hal ditakdirkan untuk tak pernah dilahirkan. Mendekam saja dalam rahim-rahim ketidakpastian yang dipelihara kecemasan juga setumpuk pertanyaan. Begitulah aku semalam tadi. Mengekang pernyataan atas nama keegoisan, persis sebulan lalu.

Salahkan aku, Fajar. Untuk semua musim hujan kita, salahkan aku. Ini persis sama sebulan yang lalu. Juga bertahun-tahun yang lewat. Aku menolak mengaku bahkan jika hatiku harus melarat. Sampai akhirnya kau alpa di barisan kotak masuk surat-suratku, aku tahu kita selesai. Tapi, kali ini bantu aku merendahkan hati. Sebab dengannya baru saja dimulai. Aku tak mau menangis terlalu pagi.

Sabtu, 31 Januari 2015

(Akhirnya) Jatuh Cinta Lagi

Dear Fajar,

Dengan apa kuterjemahkan cara kita mengakhiri ini; satu kisah yang selalu tak mampu kuselesaikan dalam tiga bagian cerita bersambung, malah menghempasku pada dialog senja yang sialnya kemungkinan besar akan usai seiring malam-malam yang akhirnya berhasil meletupkan rindu yang api, menjemput pagi yang menjadikanmu abadi?

Bagaimana kubenarkan caraku yang akhirnya menggesermu dari tempat kau seharusnya tinggal, untuk sebuah tempat ia singgah, yang kuharap bisa menjadi rumah untuk mengeja pulang tanpa membawa ingatan soal kenangan yang begitu hujan?

Pada akhirnya, sialnya lagi, kau mungkin akan terus menjadi tak terganti sebab Januari begitu pancaroba dan ia perlahan sirna bersama berkas-berkas senja hari ini. Tapi, Fajar, berkorbanlah untuk membaca kembang api kami, yang meski mati sebab hujan sehari, tangkainya masih kupegang sampai kini. Dua puluh delapan hari saja, Fajar. Dan aku akan mencintainya hingga entah hari ke berapa.