Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Kisah Sebuah Sesal (Bagian 2) : Mengecup Suaramu

“You don't love someone for their looks, or their clothes, or for their fancy car, but because they sing a song only you can hear.” - Helen Keller


Entah ini sudah detik ke berapa. Aku masih saja duduk di samping meja telepon, menunggu keberanian singgah sebentar di tanganku yang sudah mencumbu dua belas tombol di bawahnya. Apakah ini terlalu pagi? Apakah ia sudah bangun? Aah, tentu saja ia belum bangun. Aku terkekeh pelan. Lalu, jika dering teleponku yang membangunkannya, seperti apa suara yang akan menyapaku? Apa mungkin ia akan kesal karena teleponku? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang tetiba menghantamku.

“Ayolah, Rey! Kau hanya perlu mengangkat gagang telepon, menekan sembilan tombol, dan serahkan semuanya pada waktu.” Ucapku memberi semangat pada organisme yang sedari tadi belum juga bertemu matahari.

“Halo?!” Itu dia. Aku berani bertaruh ia baru saja bangun tidur. Suaranya sedikit serak. Betapa itu membuang segala tanda tanya yang sudah kupanen dua hari terkahir ini. Kubayangkan wajah kesalnya, seperti yang biasa ia tampakkan jika aku terlalu ngotot dengan pendapatku dalam diskusi di kelas. Aku tersenyum. Hei, Rey. Kau merindukannya.

Lima belas menit…

Setengah jam…

Dua jam…

“Aku belum sarapan.” Ujarnya pelan.

Dan itu seketika melemparku kembali ke Bumi. Iya. Aku bahkan tak tahu apa yang sudah kukatakan selama dua kali enam puluh menit itu. Yang kutahu, aku bahagia. Beberapa kalimatnya muncul seperti slide film di kepalaku. Tentu saja, aku mampu membayangkan bagaimana gingsulnya terlihat samar ketika yang kudengar di sini hanya tawa pelannya. Atau pipinya yang menggembung ketika ia mulai merasa percakapan kami mulai tak masuk akal. Atau dahinya yang mengernyit karena merasa mendengar sesuatu yang aneh. Kenapa ia jadi begitu cantik?

***

Aku baru saja mulai mengerjakan setumpuk tugas dari sekolah. Angka dan segala bentuknya yang mulai terlihat tak beraturan terhampar begitu saja di atas meja. Aku menemukan beberapa, oh tidak, aku menemukan banyak alasan untuk meneleponnya kali ini. Soal ini yang aku tak mengerti, apa maksud pertanyaan nomor sekian, dan hal-hal lain yang mulai terdengar masuk akal. Dan telepon rumah kini seperti candu yang terus mengerling ke arahku seakan ia punya mata.

“Rey, berkemaslah. Kita akan menjenguk kakakmu.” Suara Mama. Dari lantai atas. Seperti tanda. Terburu aku menekan nomor teleponnya. Dan, hey, aku menghapalnya di luar kepala. Ini prestasi.

“Halo?!” Suaranya semakin akrab. Terdengar renyah. Ia mungkin sedang melakukan sesuatu yang disukainya sebelum mengangkat teleponku.

“Rey’s here. What are you doing?”

“Answering your call.” Aku tertawa. Kudengar ia pun tertawa pelan di sana.
“H-2, huh? Have you prepared everything?”

“No, not yet. You? Have you finished the tasks?” Aku ingin ia bertanya lebih banyak. Sebanyak mungkin sampai aku kehabisan jawaban. Tapi, jelas saja, setiap pertanyaan yang muncul darinya pasti berhubungan dengan tugas matemika yang akan jadi oleh-oleh liburan kali ini.

“I will. By the way, I’m going to see my brother. Today. Umm… about an hour from now, exactly.” Aku belajar berpamitan. Atau belajar mengatakan segala hal yang sudah, sedang, dan akan kulakukan, tepatnya.

“Great!!! It will be a nice short trip with your family. Don’t forget to put your seatbelt on!” Aku betul-betul menghayati tawanya yang hampir tak kedengaran.

“Yeah. Of course. Ada lagi?”

“Oleh-oleh?” Jawabnya pada akhirnya setelah beberapa detik terdiam. Jawaban yang entah bagaimana, kusisipkan tanda tanya di ujungnya.


***


Aku belum melihatnya pagi ini. Sudah kutelusuri wajah-wajah di dua belas meja di bagian selatan. Tak ada. Aku juga tak melihatnya kemarin siang, kemarin sore, atau bahkan kemarin malam, ketika para murid harusnya sudah lengkap di aula makan untuk resmi kembali belajar keesokan harinya. Dan pagi ini semua jelas. Ia tak ada. Entah ia belum tiba, atau ia sudah di asrama, tapi sedang sakit sehingga tak bisa masuk sekolah. Dan untuk dua alasan itu, harusnya Risa memberitahuku. Mataku liar memicing, mencoba mendapatkan sosok Risa di jangkauanku.

“Dia belum datang. Kau mau aku mencarikan informasi untukmu ke wali kelas?” tanyanya prihatin.

“Tidak perlu. Terima kasih.” Aku berjalan mengikuti teman-temanku yang lain menuju kelas. Hari ini akan buruk, kataku dalam hati.

Sesekali, aku melihat kursinya. Seharusnya ia sedang duduk di situ, menekuni buku catatannya sembari memilin ujung rambutnya dengan pulpen. Sementara Pak Abdul berjalan ke meja guru, kami semua tahu akhir dari liburan singkat kami adalah tes Matematika. Kami semua pun tahu, ikut tes atau tidak, Sandra akan selalu bisa mendapat nilai yang bagus di akhir semester. Ia tak begitu membutuhkan coretan angka di buku nilainya kali ini. Tapi aku sungguh membutuhkannya. Bukan sebagai tempat menyontek, atau donator jawaban. Aku hanya ingin mendamaikan hatiku. Itu saja.

“Assalaamu’alaykuum…” Aku seketika melihat ke arah suara. Di sana ia. Tersengal dalam jeda salam yang tergesa. Di sana ia. Mengalahkan cahaya di depan pintu yang terbuka. Di sana ia. Meredakan cemas yang menggunung di sudut kelas. Ia mendapati mataku ketika berjalan ke kursinya. Aku takluk hingga tak sempat tersenyum. Semoga ia tak kecewa.


***


Aku sungguh berdoa untuknya. Jika itu saja tak cukup, aku tak punya apa-apa lagi yang bisa kuberikan. Dan Tuhan menjawab segalanya tepat waktu. Tepat ketika beberapa teman bertanya apa isi tas besar yang pertama kali mereka lihat di aula makan. Tepat ketika aku sadar bahwa ia tak ikut makan malam bersama yang lain. Tepat ketika aku begitu kecewa, lalu memutuskan ke ruang music untuk sekali lagi mendamaikan hatiku. Tepat pada waktu itu. Aku bisa mengenali hoodie coklatnya yang kebesaran dan tudung yang menutupi setengah wajahnya. Aku bisa mengenali postur tubuhnya ketika duduk. Bahkan, jika aku berada dalan jarak yang cukup dekat, kupastikan aku bisa mencium aroma parfum yang sudah kuhapal. Yang tidak kukenali hanyalah suara yang sedang berlomba dengan udara di sekitarku. Dan jemari kecilnya yang menari di antara enam senar, sungguh, begitu gemulai.

Aku bertahan di depan pintu. Sebisa mungkin menahan nafas, sebab mungkin saja ia bisa mendengarnya dalam sunyi yang bening malam mini. Tak ada siapapun di sini. Selain ia yang begitu bercahaya meredakan lampu 18 watt yang tergantung tanpa fitting yang kokoh. Aku bahkan tak menganggap diriku sebagai siapapun, selain penikmat yang jatuh karena telinga yang terlanjur lapar.

Lagunya selesai. Dua bait terakhir Chasing Cars tak usai. Ia berhenti. Tepat di ‘in your perfect eyes, they’re all I can see’. Lalu mati.

Aku bergeming. Menghitung detik yang terbuang percuma dalam hening. Tapi dengan segala patuh, aku rela memungut waktu yang telah jatuh. Kukumpulkan kembali, lalu kubiarkan lagi ia bernyanyi sendiri. Sementara angin semakin intim memeluk, aku bertanya-tanya apakah di sana hangat untuknya cukup. Kukira-kira tebal hoodie-nya. Tanpa sadar, aku berdoa dalam hati semoga ia tak kedinginan. Astaga. Aku jadi sering berdoa rupanya. Bisakah kali ini kutambahi dengan harapan agar ia menjadi milikku?

“Sudah lama berdiri di situ? Kenapa tak masuk saja?” suaranya mengagetkanku. Aku belum selesai meminta doa yang terakhir padahal.

“Aku tak ingin menganggu. Tapi ternyata, mungkin kehadiranku membuatmu tak menyelesaikan lagunya. Maaf.” Dia berbalik. Ke arahku. Tapi tidak benar-benar menatapku. Kuperhatikan jari-jari tangan kirinya menggesek-gesek senar tak beraturan. Ia menggigit bibir bawahnya, seakan menahan apa yang ingin tumpah. Adakah yang ingin kau tanyakan, aku bertanya dalam hati.

“Kau tak makan malam? Sedang diet?” Pertanyaan bodoh. Iya. Pertanyaan keduaku. Bodoh sekali.

“Tidak, untuk keduanya.” Orang biasa akan berpikir bahwa jawaban pertama adalah ‘iya, aku tak makan malam.’ Tapi orang sepertinya, kutebak, jawaban pertama adalah ‘tidak, aku makan malam.’

“Kau mau meneruskan lagumu? Aku bisa pergi jika ternyata aku mengganggu.”

Ia benar-benar menatapku kali ini. Tiga detik. Lalu ia kembali membalikkan badan, meninggalkan jawaban di belakangnya, tepat di mataku yang tak beranjak dari punggungnya. Aku tak pergi. Aku pun tak masuk duduk di satu-satunya kursi yang tersisa, di belakang seperangkat drum yang beberapa kali pernah kucoba mainkan. Aku hanya diam di tempatku semula. Menyelesaikan setiap nada yang akhirnya selesai. November Rain. It’s November. And it’s rain.



“Aku ingin menjadi satu-satunya jeda di antara suara, ketika kita hanya sejarak senyap di ujung dekap.”




Bagian 1 bisa dibaca DI SINI

Rabu, 04 Desember 2013

Kisah Sebuah Sesal (Bagian 1) : Bertemu Matamu

"Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas apa yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas apa yang kita lakukan walaupun itu adalah kesalahan." -- Tere Liye dalam Moga Bunda Disayang Allah

Aku yakin seorang Tere Liye bukanlah yang pertama yang berpikir demikian. Hanya saja, tetiba aku baru menyadari arti kalimat itu tepat ketika aku baru selesai menghabiskan lembaran kata-katanya. Dan ternyata aku tak perlu menunggu dua puluh tahun untuk mencicipi penyesalan.

****

Aku baru melangkahkan kaki keluar dari mobil biru yang kutumpangi bersama lima orang asing di dalamnya. Satu-satunya yang kulihat adalah deretan manusia berbaju biru yang kubayangkan sedang menyambut tamu agung. Mereka berpakaian sangat rapi, setelan jas berwarana biru terang dengan sepatu pantofel hitam mengkilat, ditambah lagi baret biru gelap yang entah apakah betul-betul bisa melindungi otak mereka dengan baik di terik pagi. Terkejutnya aku, ternyata tamu agung yang sempat kupikirkan tadi, salah satunya adalah aku—seorang pelajar yang baru saja mengantongi ijazah SMP dari daerah antah berantah—dan beberapa orang yang kelihatannya sebaya denganku, tapi jelas terlihat berbeda. Tentu saja, mereka memang pantas kupikirkan sebagai tamu agung—turun dari mobil berplat hitam yang ketika kau buka pintunya, aroma parfum yang menyengat akan seketika melumpuhkan indera penciumanmu selama sepuluh detik.

Aku dan beberapa orang yang sepertinya berasal dari daerah yang sama mulai berjalan meninggalkan gerbang megah. Oh iya, aku baru menyadari itu tepat ketika penciumanku kembali normal setelah beberapa pintu mobil berplat hitam itu memamerkan aromanya. Gapura tinggi berwarna putih dengan ornamen-ornamen yang sederhana, tapi terlihat classy, seakan ingin mewakili segala apa di dalamnya. Pelan, kami menuju sebuah aula besar. Samar-samar kulihat sudah banyak orang yang mengisi kursi-kursi di dalamnya. Perkiraanku lagi-lagi benar. Gapura di depan tadi cukup membuat orang awam bisa menebak bagaimana keadaan di dalam pagar setinggi dua meter yang mengelilingi tanah luas ini. Aula ini mungkin bisa memanjakan seribu pasang mata untuk setiap desain yang bisa dibilang sangat mendetail. Warna dindingnya yang coklat muda seakan menarik garis lurus dengan kusen-kusen jendela besar yang terbuat dari kayu yang kokoh. Langit-langitnya yang tinggi seperti congkak memamerkan adidayanya menaungi kesombongan-kesombongan manusia di bawahnya. Aku cepat saja kembali ke keriuhan setelah sibuk mengamati setiap detail aula ini. Kupilih tempat duduk di samping seorang perempuan berambut pendek. Ia hanya memanfaatkan rambutnya untuk menutupi tengkuknya kupikir. Ia terlihat ramah dibalut wajahnya yang putih.

“Halo…” sapanya halus.

“Hai… tak apa jika aku duduk di sini?” tanyaku yang spontan dijawabnya dengan anggukan sambil menepuk kursi di sebelahnya.

“Aku Rani. Namamu siapa?” kemudian percakapan tak penting mengisi dua jam kami di sela-sela suara entah siapa lewat pengeras suara jauh di depan kami.

Hal yang paling kubenci adalah berjalan melewati ramainya suara. Aku selalu merasa langkahku pincang, pandanganku bekunang-kunang, hingga akhirnya aku serasa mau pingsan. Kali ini pun sama. Aku mengutuk siapapun itu yang mengharuskanku mengambil sesuatu di depan sana. Jarak meja yang kutuju tak cukup seratus langkah, tapi aku merasa telah berjalan sejauh lelah. Ketika berbalik, itu adalah cobaan yang tak lebih sedikit. Menghadapi mata-mata yang seakan memicing, aku bertemu matanya yang bening. Ini mungkin bukan pertama kalinya aku melihat aku di mata seseorang, tapi bagaimana matanya yang jurang menarikku dalam, ini jelas kali pertama. Ia adalah hening yang sempurna, bergeming pasrah di sisi huru hara. Sampai ia tepat di samping kananku, matanya tak hanya berhasil jatuh di pupilku, tapi juga di jantungku.

****

Ia duduk tepat di seberangku. Ia yang kukenal adalah sebuah beku yang lumer lewat debat-debat di dalam kelas. Juga bisu yang biru di jam-jam istirahat. Dan kami adalah pertengkaran soal siapa yang lebih hebat; dalam buku, dalam lagu, dalam guru. Hanya itu.

“Kau akan pulang?” Hanya ada aku di dalam kelas, menghabiskan buku Da Vinci Code yang baru beberapa hari kupinjam dari seorang guru. Tentu ia berbicara padaku. Untuk pertama kali. Untuk sebuah pertanyaan di luar perdebatan tentang pelajaran. Ia berdiri sejarak satu deret kursi di depanku. Tangannya memegang sandaran kursi dengan kuat sampai jarinya memutih, seakan tanpa itu ia akan roboh ke lantai. Matanya tepat menatapku dengan alis yang hampir segaris menunggu jawaban. Bibirnya terkatup rapat seperti menahan kata-kata yang sudah di ujung lidah.

“Iya.” Jawabku pendek. Setelah tiga bulan tanpa komunikasi dengan dunia, aku merasa butuh keramaian keluarga. Tentu saja aku akan menjemput itu. Pulang adalah satu-satunya hal yang penuh di kepalaku, selain ratusan soal matematika yang akan jadi pekerjaan rumah yang benar-benar mengerjaiku.

“Kupikir aku butuh nomor ponselmu. Hanya sekadar jaga-jaga kalau aku butuh bantuan untuk PR Matematika itu.” Ia masih beku di tempatnya. Sama sekali tanpa gerakan, selain bibirnya yang berucap.

“Aku khawatir tak bisa membantumu kali ini. Aku bahkan tak berkeinginan untuk memiliki sebuah ponsel.”

Kulihat ia mengernyit, menarik napas dalam lalu menghempaskannya terburu. Ia berbalik. Dua detik saja. Lalu berbalik lagi, berjalan dengan langkah lebar ke arahku. Tepat di depan mejaku, matanya menatap lantai. Tangannya terjatuh begitu saja di sisi badannya. Aku sedikit bergidik dengan kesunyian ini. Aku merasa mendengar detak jantungku sendiri, atau mungkin juga miliknya, sebab ia terlampau dekat. Tak pernah sedekat ini sebelumnya. Aku sibuk meredakan darah yang naik ke wajahku. Sementara waktu tak sempat kuhitung lagi. Tak ada yang kuharapkan dari kondisi ini, entah sebuah keromantisan atau penyelamatan. Sebab hatiku mulai tak peduli tentang seberapa sesak waktu yang lewat, hanya butuh ini bertahan lebih lama. Ia mengangkat wajahnya. Sekali lagi, aku merasa matanya lancang menelanjangi mataku.

“Aku tak mau merasa sekarat. Berikan saja aku obat. Di mana aku bisa menghubungimu?” Ia berbisik. Aku hampir tak bisa mendengar suaranya. Sementara aku ingin memastikan apa yang sempat ditangkap telingaku itu bukan suara pikiranku saja, aku sudah menulis beberapa angka di kertas paling belakang buku pelajaran yang kurobek sembarang. Ia mengambilnya, lalu berlalu pergi tanpa suara.

****
(to be continued)


“Matamu ialah jurang yang di dalamnya aku rela jatuh.”

Rabu, 09 Oktober 2013

Senja dan Asa yang Menua


Malam baru saja usai. Kutandai itu dengan saru bahana adzan. Aku meringkuk di bawah peluk sarung yang tak pernah cukup hangat. Mungkin sebab itu aku butuh dekap. Angin selalu menemukan cara untuk masuk di sela tepas, menusuk kulit rapuhku lekas. Lenganmu, pada suatu waktu, akan menghempas segala guruh gemetar. Aku mempercayai itu  hingga mendapati kalender meja di samping tempat tidurku yang tak nampak lagi angka-angkanya. Sebentar lagi, pikirku. Setelah tujuh ratus tiga puluh tujuh hari, kalender yang hampir semua angkanya tersilang merah, akan berakhir di tempat sampah. Aku menggeliat, mengusir sisa-sisa lelap yang masih melekat, tapi senyap tetiba merapat begitu dekat, memaksaku mendengar detak jantungku sendiri – detak yang semakin cepat seiring berlalunya detik yang konstan terekam dari jam weker kecil berwarna biru. Di sampingnya, keramik beruang kecil tersenyum menghela bunga. Kubayangkan kau pada hari ini tiba dengan dua puluh dua kuntum kejora. 
Cahaya layar ponselku berlomba dengan ujung lengan-lengan matahari yang mencoba meraihku dari balik tirai jendela. Siapapun pengirim pesan itu, semoga bukan pesan dari operator telepon, keluhku. Yang benar saja, ini masih terlalu pagi untuk merecoki pikiran pelanggannya dengan informasi yang bahkan tidak pernah sempat dibaca. Tapi deretan huruf itu kemudian menarik bibirku. Ia selalu tahu cara membuatku tersenyum di saat-saat yang tak terduga.
Jangan merengut. Pesan ini tidak untuk membangunkanmu, karena harusnya kau sudah bersiap-siap dengan cangkir kopimu :) Aku sedang berada di orbit rotasimu. Temui aku di kafe biasa pukul 10. Dan jangan lupa bawa senyummu. Oh, jangan. Bawa tawamu saja.
*** 
Baru saja pintu kafe menyapa mataku, hujan sudah bebas jatuh. Padahal tadi matahari terlihat senang menantang langit. Tak begitu ramai rupanya. Mungkin karena sekarang sudah terlalu terlambat untuk mendapatkan kopi pertama. Dan jam makan siang sepertinya masih lama. Aku berjalan ke pantry kecil yang memisahkan aku dengan satu-satunya pegawai yang nampak sibuk mengatur entah apa di balik mejanya.
"Selamat… pagi menjelang siang?" sapanya, berusaha ramah dengan sedikit tanda tanya. Ia bergantian menatap aku dan arloji yang menggantung begitu saja di pergelangan tangannya yang kecil. 
"Jam segini, Nona? Aku bahkan tak ingat pernah melihatmu selain ketika matahari telah jatuh. Kau tahu, aku sampai-sampai mengira kau seorang Cullen yang menghisap kopi, " candanya.
Aku bisa melihat lebih banyak barisan gigi putihnya. Biasanya ia hanya tersenyum sopan pada siapapun yang datang.
"Sepertinya aku harus lebih sering ke sini di jam seperti ini. Melihatmu tertawa adalah hal langka rupanya. Tapi bisakah kau sisihkan waktu sibukmu untuk kopiku?”
"Ah, ya. Silakan duduk dulu. Aku sesungguhnya memiliki terlalu banyak waktu untuk sekadar mengantar kopimu ke meja mana pun yang kau suka."
Aku tersenyum. Ia selalu begitu baik. Cepat aku keluarkan dua lembar kertas dari dompetku, lalu berjalan ke sudut itu; tempat favorit. Dari sini, aku bisa leluasa memandang hujan yang sesekali mengecup kaca.
"Kopi keduamu, aku yakin. Minumlah perlahan, dan terima kasih untuk hadirmu di jam yang riuh seperti ini." Ia menyebut kata riuh sambil memutar bola matanya. Lucu.
Aku menunggu sebuah pesan yang bisa meyakinkan aku untuk terus menunggu di sini, sampai sapaan itu sayup jatuh di telinga kiri.
"Adakah yang begitu membuatmu terpikat selain hujan dan senja? Kau tahu, aku mulai cemburu.” Ia merengut sambil menarik kursi di depanku, menghalangi sedikit banyak bulir air yang terperangkap di permukaan kaca.  
Aku pura-pura merajuk, “Kau bisa saja memulai ini dengan menanyakan kabarku, Al.”
Ia tertawa, “Aku tahu kau sedang tak baik. Jadi untuk apa aku bertanya? Aku selalu tahu apapun lebih dari segala yang kau tahu, Nona.”
Kemudian menit selanjutnya bergulir dengan cepat. Aku bahkan lupa menuntaskan cangkir yang sudah tak beruap.
"Kau tahu, sudah lama kita tak tertawa sampai sakit perut. Dan ini pertama kalinya setelah… Ah, iya, bahkan aku lupa sudah berapa lama. Aku bukan ahli menghitung waktu rupanya. Jadi, bagaimana kabarmu?" Ia berbicara dengan sisa sisa tawa di bibirnya.
Aku tersenyum, “Aku baik. Tidak pernah sebaik ini malah. Jadi, berhentilah sok tahu. Sesekali kau harus percaya padaku soal bagaimana aku.”
"Ra, kau tahu kenapa kita tak pernah bisa tertawa lepas sebelum hari ini. Aku selalu percaya pada apa yang kau ucap, tapi tidak jika aku bisa melihat matamu. Ini sudah keterlaluan. Berhentilah, Ra. Ini bukan skenario yang baik untuk hidupmu. "
"Kau tahu aku sangat berbakat pada hal semacam ini, kan? Jika bagimu ini hanya drama murahan, aku tak perlu penonton. Pada saatnya, aku pasti berhenti, Al. Tenang saja. Kita juga akan lebih sering tertawa pada akhirnya," jawabku seraya tersenyum.
Kulihat air mukanya berubah. Aku tak pernah tahu bahwa seseorang yang mungkin saja pernah aku sakiti, telah begitu mengerti tentang sakit, hingga ia bisa mudah menaksir. Dan aku selalu membenci wajahnya yang terlihat getir. Untukku. Kuseruput kopiku yang sudah dingin. Di seberang meja, ia memainkan cangkir kopinya. Sesaat aku menyesal. Jika pembicaraan tadi tak sampai pada hal yang sebenarnya kami berdua sama-sama hindari, pada saat ini kami pasti masih akrab dengan tawa. Segalanya kembali canggung. Di luar, hujan pun masih mendengung. Lagu damai yang tak cukup menyemai ramai cerita yang terlanjur selesai.
 Ia memecah sunyi,”Ra,…?!”
Aku tahu masih ada kata-kata yang menggantung sejarak meja yang menengahi kami. Pada akhirnya ia hanya tersenyum. Menunda segala apa yang sudah sampai di ujung lidahnya, sebelum ia telan kembali tersembunyi di tumpukan waktu yang semakin entah. Aku tidak sepenuhnya sadar, sampai kulihat punggungnya tepat membelakangi pintu kafe. Tapi aku sadar, ada yang pelan-pelan menggenang hingga membuat ia terlihat semakin buram.
Aku membatin, “Aku tidak baik, Al. Kabarku tidak baik.”
*** 
Kota sedang betul-betul terjaga. Di sana-sini, kendaraan terbatuk-batuk menggerus sisa-sisa genangan yang tak menguap juga. Padahal matahari sudah cukup lama siaga. Memaksa beberapa orang mempertahankan payung di puncak kepala. Seiring lagu yang bergantian mengisi udara, tak terasa ke barat matahari semakin mengarah. Sedari tadi, bergantian orang-orang mengisi sisa kursi. Sementara aku belum beranjak dari cangkir yang menemani sejak pagi. Sepertinya ini bukan suatu masalah jika melihat banyaknya senyum dari pegawai yang sekadar lewat.
Kulirik jam yang menempel di dinding seberang, sudah hampir senja rupanya. Aku beranjak, meninggalkan ampas kopi yang tak nampak. Di luar, udara masih terasa panas, meski dalam perjalanannya, matahari sering meniduri awan. Aku mengikutinya pelan sembari mencoba merangkai sapaan. Kadang aku merasa ini akan seperti pertemuan pertama, menjaga rindu biar tak terlalu kentara. Atau aku berdiam saja di rumah, menyeruput kopi ketiga atau keempat sembari sesekali mendongak ke jalan. Ia pasti tahu harus mencariku ke mana jika tak ditemukannya aku di dermaga. Tapi, bukankah janji adalah apa yang selama ini ingin aku amini? Dan tetiba saja aku sudah sampai di sini. Dermaga kayu tua ini nampak lapuk. Aku membayangkan seberapa ia menahan remuk untuk setiap harapan yang enggan redup. Semakin hari, aku mencintai setiap goresan-goresan kayu yang mulai akrab dengan tanganku. Mereka mungkin senang disapa, meski harus berdarah bergesekan dengan kulitku yang kian papa. 
Horison yang tadi membiru mulai digayungi jingga. Sebentar lagi, pikirku. Masih terbayang sahabatku memintaku berhenti, tapi aku bergeming di sela udara yang hening. Kutajamkan telingaku, mencoba menusuk jejak yang akan tergeletak di belakang. Dadaku mulai sesak. Sementara matahari tinggal mengintip merangkak mencari perlindungan. Cakrawala seketika begitu luas. Di batas langit matahari akhirnya jatuh. Dan mimpiku ikut terbunuh.
Tak ada orang lain di sini. Aku menjaga pandangan di titik jauh maksimum yang bisa kuraih. Sementara adzan lamat terdengar, tubuhku mulai gemetar.
  
2007
"Dua tahun, Sayang. Bisakah kau bersabar? Aku akan datang segera, menemanimu menatap senja. Di sini, di dermaga kayu tua ini."

2009
Aku masih di tanggal yang sama, melingkari harapan di kalender pertama. Untuknya, aku menantang sabar. Dan menang dengan tegar. Ia mungkin masih harus menyelesaikan apapun itu di sana. Dua tahun, katanya. Kemudian aku mengambil kalender baru. Kalender kedua untuk janji dua tahun lalu.

2013
Ia memecah sunyi,”Ra,…?!”
“…”
“Tidakkah kau pikir janji pun bisa menua, lalu mati? Sementara kau begitu gigih, melawan waktu yang mungkin saja sudah letih. Dan selama rentang gemingmu, aku terlihat lebih bodoh sebab mencintamu.”

Samar kukumpulkan ingatan pada setiap ejaannya yang terbata. Sahabatku… ia sudah begitu sakit, bahkan untuk menyakitiku lewat kata. Sementara aku masih menunggu kekasihku. Tidak, bukan karena aku gigih, pun tak letih. Hati ini semakin ringkih untuk sekadar hidup demi mimpi. Tapi, aku tak tega menjadikan ia seorang yang ingkar pada ucapnya. Atau, aku masih buta cara untuk tak setia. Lagipula, bukankah senja tak kan pernah menua?