Rabu, 04 Desember 2013

Kisah Sebuah Sesal (Bagian 1) : Bertemu Matamu

"Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas apa yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas apa yang kita lakukan walaupun itu adalah kesalahan." -- Tere Liye dalam Moga Bunda Disayang Allah

Aku yakin seorang Tere Liye bukanlah yang pertama yang berpikir demikian. Hanya saja, tetiba aku baru menyadari arti kalimat itu tepat ketika aku baru selesai menghabiskan lembaran kata-katanya. Dan ternyata aku tak perlu menunggu dua puluh tahun untuk mencicipi penyesalan.

****

Aku baru melangkahkan kaki keluar dari mobil biru yang kutumpangi bersama lima orang asing di dalamnya. Satu-satunya yang kulihat adalah deretan manusia berbaju biru yang kubayangkan sedang menyambut tamu agung. Mereka berpakaian sangat rapi, setelan jas berwarana biru terang dengan sepatu pantofel hitam mengkilat, ditambah lagi baret biru gelap yang entah apakah betul-betul bisa melindungi otak mereka dengan baik di terik pagi. Terkejutnya aku, ternyata tamu agung yang sempat kupikirkan tadi, salah satunya adalah aku—seorang pelajar yang baru saja mengantongi ijazah SMP dari daerah antah berantah—dan beberapa orang yang kelihatannya sebaya denganku, tapi jelas terlihat berbeda. Tentu saja, mereka memang pantas kupikirkan sebagai tamu agung—turun dari mobil berplat hitam yang ketika kau buka pintunya, aroma parfum yang menyengat akan seketika melumpuhkan indera penciumanmu selama sepuluh detik.

Aku dan beberapa orang yang sepertinya berasal dari daerah yang sama mulai berjalan meninggalkan gerbang megah. Oh iya, aku baru menyadari itu tepat ketika penciumanku kembali normal setelah beberapa pintu mobil berplat hitam itu memamerkan aromanya. Gapura tinggi berwarna putih dengan ornamen-ornamen yang sederhana, tapi terlihat classy, seakan ingin mewakili segala apa di dalamnya. Pelan, kami menuju sebuah aula besar. Samar-samar kulihat sudah banyak orang yang mengisi kursi-kursi di dalamnya. Perkiraanku lagi-lagi benar. Gapura di depan tadi cukup membuat orang awam bisa menebak bagaimana keadaan di dalam pagar setinggi dua meter yang mengelilingi tanah luas ini. Aula ini mungkin bisa memanjakan seribu pasang mata untuk setiap desain yang bisa dibilang sangat mendetail. Warna dindingnya yang coklat muda seakan menarik garis lurus dengan kusen-kusen jendela besar yang terbuat dari kayu yang kokoh. Langit-langitnya yang tinggi seperti congkak memamerkan adidayanya menaungi kesombongan-kesombongan manusia di bawahnya. Aku cepat saja kembali ke keriuhan setelah sibuk mengamati setiap detail aula ini. Kupilih tempat duduk di samping seorang perempuan berambut pendek. Ia hanya memanfaatkan rambutnya untuk menutupi tengkuknya kupikir. Ia terlihat ramah dibalut wajahnya yang putih.

“Halo…” sapanya halus.

“Hai… tak apa jika aku duduk di sini?” tanyaku yang spontan dijawabnya dengan anggukan sambil menepuk kursi di sebelahnya.

“Aku Rani. Namamu siapa?” kemudian percakapan tak penting mengisi dua jam kami di sela-sela suara entah siapa lewat pengeras suara jauh di depan kami.

Hal yang paling kubenci adalah berjalan melewati ramainya suara. Aku selalu merasa langkahku pincang, pandanganku bekunang-kunang, hingga akhirnya aku serasa mau pingsan. Kali ini pun sama. Aku mengutuk siapapun itu yang mengharuskanku mengambil sesuatu di depan sana. Jarak meja yang kutuju tak cukup seratus langkah, tapi aku merasa telah berjalan sejauh lelah. Ketika berbalik, itu adalah cobaan yang tak lebih sedikit. Menghadapi mata-mata yang seakan memicing, aku bertemu matanya yang bening. Ini mungkin bukan pertama kalinya aku melihat aku di mata seseorang, tapi bagaimana matanya yang jurang menarikku dalam, ini jelas kali pertama. Ia adalah hening yang sempurna, bergeming pasrah di sisi huru hara. Sampai ia tepat di samping kananku, matanya tak hanya berhasil jatuh di pupilku, tapi juga di jantungku.

****

Ia duduk tepat di seberangku. Ia yang kukenal adalah sebuah beku yang lumer lewat debat-debat di dalam kelas. Juga bisu yang biru di jam-jam istirahat. Dan kami adalah pertengkaran soal siapa yang lebih hebat; dalam buku, dalam lagu, dalam guru. Hanya itu.

“Kau akan pulang?” Hanya ada aku di dalam kelas, menghabiskan buku Da Vinci Code yang baru beberapa hari kupinjam dari seorang guru. Tentu ia berbicara padaku. Untuk pertama kali. Untuk sebuah pertanyaan di luar perdebatan tentang pelajaran. Ia berdiri sejarak satu deret kursi di depanku. Tangannya memegang sandaran kursi dengan kuat sampai jarinya memutih, seakan tanpa itu ia akan roboh ke lantai. Matanya tepat menatapku dengan alis yang hampir segaris menunggu jawaban. Bibirnya terkatup rapat seperti menahan kata-kata yang sudah di ujung lidah.

“Iya.” Jawabku pendek. Setelah tiga bulan tanpa komunikasi dengan dunia, aku merasa butuh keramaian keluarga. Tentu saja aku akan menjemput itu. Pulang adalah satu-satunya hal yang penuh di kepalaku, selain ratusan soal matematika yang akan jadi pekerjaan rumah yang benar-benar mengerjaiku.

“Kupikir aku butuh nomor ponselmu. Hanya sekadar jaga-jaga kalau aku butuh bantuan untuk PR Matematika itu.” Ia masih beku di tempatnya. Sama sekali tanpa gerakan, selain bibirnya yang berucap.

“Aku khawatir tak bisa membantumu kali ini. Aku bahkan tak berkeinginan untuk memiliki sebuah ponsel.”

Kulihat ia mengernyit, menarik napas dalam lalu menghempaskannya terburu. Ia berbalik. Dua detik saja. Lalu berbalik lagi, berjalan dengan langkah lebar ke arahku. Tepat di depan mejaku, matanya menatap lantai. Tangannya terjatuh begitu saja di sisi badannya. Aku sedikit bergidik dengan kesunyian ini. Aku merasa mendengar detak jantungku sendiri, atau mungkin juga miliknya, sebab ia terlampau dekat. Tak pernah sedekat ini sebelumnya. Aku sibuk meredakan darah yang naik ke wajahku. Sementara waktu tak sempat kuhitung lagi. Tak ada yang kuharapkan dari kondisi ini, entah sebuah keromantisan atau penyelamatan. Sebab hatiku mulai tak peduli tentang seberapa sesak waktu yang lewat, hanya butuh ini bertahan lebih lama. Ia mengangkat wajahnya. Sekali lagi, aku merasa matanya lancang menelanjangi mataku.

“Aku tak mau merasa sekarat. Berikan saja aku obat. Di mana aku bisa menghubungimu?” Ia berbisik. Aku hampir tak bisa mendengar suaranya. Sementara aku ingin memastikan apa yang sempat ditangkap telingaku itu bukan suara pikiranku saja, aku sudah menulis beberapa angka di kertas paling belakang buku pelajaran yang kurobek sembarang. Ia mengambilnya, lalu berlalu pergi tanpa suara.

****
(to be continued)


“Matamu ialah jurang yang di dalamnya aku rela jatuh.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar