"Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas apa yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas apa yang kita lakukan walaupun itu adalah kesalahan." -- Tere Liye dalam Moga Bunda Disayang Allah
Aku yakin seorang Tere Liye
bukanlah yang pertama yang berpikir demikian. Hanya saja, tetiba aku baru menyadari
arti kalimat itu tepat ketika aku baru selesai menghabiskan lembaran
kata-katanya. Dan ternyata aku tak perlu menunggu dua puluh tahun untuk
mencicipi penyesalan.
****
Aku baru melangkahkan kaki keluar
dari mobil biru yang kutumpangi bersama lima orang asing di dalamnya.
Satu-satunya yang kulihat adalah deretan manusia berbaju biru yang kubayangkan
sedang menyambut tamu agung. Mereka berpakaian sangat rapi, setelan jas berwarana
biru terang dengan sepatu pantofel hitam mengkilat, ditambah lagi baret biru
gelap yang entah apakah betul-betul bisa melindungi otak mereka dengan baik di
terik pagi. Terkejutnya aku, ternyata tamu agung yang sempat kupikirkan tadi,
salah satunya adalah aku—seorang pelajar yang baru saja mengantongi ijazah SMP
dari daerah antah berantah—dan beberapa orang yang kelihatannya sebaya
denganku, tapi jelas terlihat berbeda. Tentu saja, mereka memang pantas
kupikirkan sebagai tamu agung—turun dari mobil berplat hitam yang ketika kau
buka pintunya, aroma parfum yang menyengat akan seketika melumpuhkan indera
penciumanmu selama sepuluh detik.
Aku dan beberapa orang yang
sepertinya berasal dari daerah yang sama mulai berjalan meninggalkan gerbang
megah. Oh iya, aku baru menyadari itu tepat ketika penciumanku kembali normal
setelah beberapa pintu mobil berplat hitam itu memamerkan aromanya. Gapura
tinggi berwarna putih dengan ornamen-ornamen yang sederhana, tapi terlihat
classy, seakan ingin mewakili segala apa di dalamnya. Pelan, kami menuju sebuah
aula besar. Samar-samar kulihat sudah banyak orang yang mengisi kursi-kursi di
dalamnya. Perkiraanku lagi-lagi benar. Gapura di depan tadi cukup membuat orang
awam bisa menebak bagaimana keadaan di dalam pagar setinggi dua meter yang
mengelilingi tanah luas ini. Aula ini mungkin bisa memanjakan seribu pasang
mata untuk setiap desain yang bisa dibilang sangat mendetail. Warna dindingnya
yang coklat muda seakan menarik garis lurus dengan kusen-kusen jendela besar
yang terbuat dari kayu yang kokoh. Langit-langitnya yang tinggi seperti congkak
memamerkan adidayanya menaungi kesombongan-kesombongan manusia di bawahnya. Aku
cepat saja kembali ke keriuhan setelah sibuk mengamati setiap detail aula ini. Kupilih
tempat duduk di samping seorang perempuan berambut pendek. Ia hanya
memanfaatkan rambutnya untuk menutupi tengkuknya kupikir. Ia terlihat ramah
dibalut wajahnya yang putih.
“Halo…” sapanya halus.
“Hai… tak apa jika aku duduk di
sini?” tanyaku yang spontan dijawabnya dengan anggukan sambil menepuk kursi di
sebelahnya.
“Aku Rani. Namamu siapa?”
kemudian percakapan tak penting mengisi dua jam kami di sela-sela suara entah
siapa lewat pengeras suara jauh di depan kami.
Hal yang paling kubenci adalah
berjalan melewati ramainya suara. Aku selalu merasa langkahku pincang,
pandanganku bekunang-kunang, hingga akhirnya aku serasa mau pingsan. Kali ini
pun sama. Aku mengutuk siapapun itu yang mengharuskanku mengambil sesuatu di
depan sana. Jarak meja yang kutuju tak cukup seratus langkah, tapi aku merasa
telah berjalan sejauh lelah. Ketika berbalik, itu adalah cobaan yang tak lebih
sedikit. Menghadapi mata-mata yang seakan memicing, aku bertemu matanya yang
bening. Ini mungkin bukan pertama kalinya aku melihat aku di mata seseorang,
tapi bagaimana matanya yang jurang menarikku dalam, ini jelas kali pertama. Ia adalah
hening yang sempurna, bergeming pasrah di sisi huru hara. Sampai ia tepat di
samping kananku, matanya tak hanya berhasil jatuh di pupilku, tapi juga di
jantungku.
****
Ia duduk tepat di seberangku. Ia
yang kukenal adalah sebuah beku yang lumer lewat debat-debat di dalam kelas. Juga
bisu yang biru di jam-jam istirahat. Dan kami adalah pertengkaran soal siapa
yang lebih hebat; dalam buku, dalam lagu, dalam guru. Hanya itu.
“Kau akan pulang?” Hanya ada aku
di dalam kelas, menghabiskan buku Da Vinci Code yang baru beberapa hari
kupinjam dari seorang guru. Tentu ia berbicara padaku. Untuk pertama kali. Untuk
sebuah pertanyaan di luar perdebatan tentang pelajaran. Ia berdiri sejarak satu
deret kursi di depanku. Tangannya memegang sandaran kursi dengan kuat sampai
jarinya memutih, seakan tanpa itu ia akan roboh ke lantai. Matanya tepat
menatapku dengan alis yang hampir segaris menunggu jawaban. Bibirnya terkatup
rapat seperti menahan kata-kata yang sudah di ujung lidah.
“Iya.” Jawabku pendek. Setelah
tiga bulan tanpa komunikasi dengan dunia, aku merasa butuh keramaian keluarga. Tentu
saja aku akan menjemput itu. Pulang adalah satu-satunya hal yang penuh di
kepalaku, selain ratusan soal matematika yang akan jadi pekerjaan rumah yang
benar-benar mengerjaiku.
“Kupikir aku butuh nomor
ponselmu. Hanya sekadar jaga-jaga kalau aku butuh bantuan untuk PR Matematika
itu.” Ia masih beku di tempatnya. Sama sekali tanpa gerakan, selain bibirnya
yang berucap.
“Aku khawatir tak bisa membantumu
kali ini. Aku bahkan tak berkeinginan untuk memiliki sebuah ponsel.”
Kulihat ia mengernyit, menarik
napas dalam lalu menghempaskannya terburu. Ia berbalik. Dua detik saja. Lalu berbalik
lagi, berjalan dengan langkah lebar ke arahku. Tepat di depan mejaku, matanya
menatap lantai. Tangannya terjatuh begitu saja di sisi badannya. Aku sedikit
bergidik dengan kesunyian ini. Aku merasa mendengar detak jantungku sendiri,
atau mungkin juga miliknya, sebab ia terlampau dekat. Tak pernah sedekat ini
sebelumnya. Aku sibuk meredakan darah yang naik ke wajahku. Sementara waktu tak
sempat kuhitung lagi. Tak ada yang kuharapkan dari kondisi ini, entah sebuah
keromantisan atau penyelamatan. Sebab hatiku mulai tak peduli tentang seberapa
sesak waktu yang lewat, hanya butuh ini bertahan lebih lama. Ia mengangkat
wajahnya. Sekali lagi, aku merasa matanya lancang menelanjangi mataku.
“Aku tak mau merasa sekarat.
Berikan saja aku obat. Di mana aku bisa menghubungimu?” Ia berbisik. Aku hampir
tak bisa mendengar suaranya. Sementara aku ingin memastikan apa yang sempat
ditangkap telingaku itu bukan suara pikiranku saja, aku sudah menulis beberapa
angka di kertas paling belakang buku pelajaran yang kurobek sembarang. Ia mengambilnya,
lalu berlalu pergi tanpa suara.
****
(to be continued)
“Matamu ialah jurang yang di dalamnya aku rela jatuh.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar