Temui ia dan sampaikan salamku...
Salam terdalam dari hati yang meradang,
makin kelam dalam petang,
hingga lelap di pelukan malam.
Temui ia dan katakan padanya…
bagaimana sesal mencabik,
hingga mencekik,
dulu… ketika peluk terganti doa.
Temui ia dan ceritakan padanya..
bagaimana rindu menjadi biru,
makin sendu dalam subuh yang meng-alu,
hingga menunggu menjadi abu.
Temui ia dan ceritakan padanya…
bagaimana mengkulduskan melodinya,
mensucikan tuts-tutsnya,
menunggu untuk bernyanyi berdua.
Temui ia dan ceritakan padanya…
bagaimana derai seperti rintik,
pelan biar tak terdengar,
tak terdengar biar tak terluka.
Temui ia dan ceritakan padanya…
bagaimana isak yang menyesak,
sunyi namun pedih…
Temui ia dan ceritakan padanya…
bagaimana duduk menikmati gambar begitu mengasyikkan,
hingga kawan menepuk pundak dan menyadarkan,
berlama-lama dalam lampau itu menyedihkan.
Temui ia dan ceritakan padanya…
bagaimana harapan itu terbang,
ketika dua sosok hanya terhenti dalam mengenang,
diam… lalu saling melambaikan tangan.
Temui ia dan ceritakan padanya…
sakitnya menonton film sedih,
yang tak jernih terputar dalam kini.
Meski terulang, berharap akhir cerita yang berbeda.
Temui ia dan ceritakan padanya…
ingin yang meledak,
ingin yang memeluk,
ingin yang mengikat…
Kemudian temui ia dan katakan padanya…
betapa inginnya kaki bertahan,
dalam tegar.
Bukan cobaan, hanya waktu yang terlalu lama.
Lalu katakan padanya…
menyerahku dalam lelahku,
ketika tak kunjung kembali peluk itu,
ketika tak jua abadi lingkaran di kalender kami.
Dan sampaikan salamku…
salam indah seperti doa,
dari hati yang mencoba putih.
Dan katakan padanya…
temui aku dalam senyum,
di mimpiku selanjutnya.
Biar kulambaikan tangan sekali lagi,
kemudian akan kujabat tangannya lagi,
sebelum aku berbalik lagi,
berikhtiar lagi…
Juga ceritakan padanya…
aku berbisik padamu,
"Sayang, itu lembaran hitam putihku. Kini, kita tak sekedar dua warna."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar