Seharusnya kukirim ini seminggu lalu, setelah
keningku tumpah di antara jumat dan sabtu yang gamang, sebab ternyata beberapa
yang sempat melintas hari itu masih mengingat satu tanggal yang sepatutnya kaurayakan,
kata mereka.
Tapi, tidak, sebab di malam antara jumat dan
sabtu itu aku sujud terlalu lama mengais petunjuk tentang yang sepantasnya ada
di tumpukan ketiadaan kata, juga karena badai yang terlalu hebat menghantam musim
tenangmu selama dua kala tepat di waktu aku harus menyapa segelas doa menjemput
kamis yang puasa.
Maafkan kealpaanku, kumohon.
Sudah kukatakan padamu untuk berhati-hati,
Sayangku. Jatuh hati tak sesuka-cita itu setelah kau diporak-porandakan oleh
kecewa yang teramat sungguh. Kau buat batas antara impian dan kenyataan,
menimpa garis lurus yang kau torehkan berlapis-lapis sebagai peringatan; cukup
sampai saat itu saja, pintaku. Saat ketika kau jatuh terlalu jatuh hingga
duniamu seakan runtuh tepat di atas kepalamu yang dipenuhi satu nama. Aku
bersedih, kau tahu itu. Aku menangisi malam-malam panjang ketika kantuk tak
juga bertamu di matamu. Aku meratapi pagi-pagi suram ketika muram kerap bertemu
dalam kopimu.
Betapa bandelnya dirimu, Manisku. Dengan sajak
yang hanya seujung kuku, kau tak lagi menjejak tanah. Kau bermain dengan kata
dan harapan, sementara episode-episode sebelumnya kau hanya penikmat lakon
berjuta puisi tentang dia. Kau saksi mereka yang melihatmu dari luar kaca
bening, berangkulan tiada geming. Kau sangsi pada hatimu yang batu, sebelum kau
tahu jemarinya air yang akhirnya membuatmu benar-benar luluh.
Tapi, Cintaku, tenanglah. Aku punya seribu
hiburan untukmu. Kita punya warna lipstik baru, cerahnya mengalahkan sendu
musim buruk di belakangmu. Ada lusinan lagu yang dipinjamkan telinga temanku,
kau tak akan pernah merasa sendiri. Juga beberapa buku, hadiah dari teman yang
begitu baik. Pilih saja yang mana yang kau mau kudongengkan. Kurang? Baiklah.
Kubisikkan kau rencana-rencana rahasia. Beberapa sempat kupindah-turunkan di
daftar rencanaku tahun ini, demimu yang jatuh hati, tapi mari kita membuat
urutan lagi. Tempat mana yang ingin lebih dulu kau kunjungi?
Jadi, berhentilah gelisah. Kasih memang selalu
punya kisah, tapi kau akan selalu punya rumah. Untuk menidurkan segala lelah
dan menetapkan hati pada satu arah.
Selamat ulang tahun seminggu yang lalu, Manekin-ku sayang...
Yang selalu ada di belakang bayanganmu,
@amy_awp
Baru mampir udah suka sama tulisannya :)
BalasHapusTerima kasih... :)
Hapus