Dear Fajar,
Dengan apa kuterjemahkan cara kita mengakhiri
ini; satu kisah yang selalu tak mampu kuselesaikan dalam tiga bagian cerita
bersambung, malah menghempasku pada dialog senja yang sialnya kemungkinan besar
akan usai seiring malam-malam yang akhirnya berhasil meletupkan rindu yang api,
menjemput pagi yang menjadikanmu abadi?
Bagaimana kubenarkan caraku yang akhirnya
menggesermu dari tempat kau seharusnya tinggal, untuk sebuah tempat ia singgah,
yang kuharap bisa menjadi rumah untuk mengeja pulang tanpa membawa ingatan soal
kenangan yang begitu hujan?
Pada akhirnya, sialnya lagi, kau mungkin akan
terus menjadi tak terganti sebab Januari begitu pancaroba dan ia perlahan sirna
bersama berkas-berkas senja hari ini. Tapi, Fajar, berkorbanlah untuk membaca
kembang api kami, yang meski mati sebab hujan sehari, tangkainya masih kupegang
sampai kini. Dua puluh delapan hari saja, Fajar. Dan aku akan mencintainya
hingga entah hari ke berapa.
Selamat jatuh cinta (lagi), Kak. :)
BalasHapushttp://www.cewealpukat.me/
Terima kasih :)
HapusSiapa sih
BalasHapus