Rabu, 04 September 2013

Floating in Togean (1) : Riding the Times Down

Pagi yang mellow. Mungkin karena sudah lama tak memikul backpack. Semua perlengkapan sudah siap, termasuk gear baru yang khusus saya siapkan untuk trip kali ini. Iya, hanya dengan satu kali pengalaman snorkeling di tanjung bira tiga tahun lalu, saya nekat miliki snorkeling gear sendiri. Dan keberadaan life jacket di tempat tujuan saya sungguh mengganggu. Apa jadinya tiga hariku nanti kalau saya tidak bisa menyewa life jacket? Sebab perlu dicatat, saya tidak bisa berenang. Sama sekali. Ketika di SMA dulu, pelajaran olahraga untuk nilai ujian sekolah, salah satunya diambil dari berenang. Entah, mungkin karena guru olahraga itu terlalu baik, saya bisa – paling tidak – mendapat nilai standar ujian sekolah. Dan setelah praktik berenang itu, saya tidak pernah lagi mencoba belajar, sampai tiga tahun lalu di tanjung bira. Berbekal rasa penasaran melihat apa yang ada di bawah air, yang bahkan dari atas perahu saja sudah begitu memikat, saya nekat turun. Dengan pelampung pastinya. Dan coba tebak! Bahkan dengan bantuan life jacket pun, saya masih diserang panik sampai harus ‘dituntun’ oleh teman-teman saya. Megap-megap selama beberapa menit pun sudah jadi bagian paling 'biasa'. Tapi, mari lupakan masa lalu. Sekarang saya terlalu excited tentang apa yang akan menjamu saya besok. Dan pukul sepuluh pagi, kendaraan yang saya pesan untuk menuju Ampana, datang tanpa rasa bersalah. Bung, kau sudah menyia-nyiakan satu jam di hidupku.

Peralatan tempur :D
Masih harus menunggu sekitar setengah jam sebelum mobil berkapasitas tujuh penumpang itu benar-benar menuju Ampana. Urusan bagasi penumpang yang ribet diatur menjadi satu-satunya alasan kenapa mobil belum juga siap berangkat. Sepuluh lebih dua puluh, akhirnya.

Pukul satu siang, mobil berhenti di salah satu warung makan di Kilo Lima, Luwuk. Daerah ini sejatinya adalah tempat populer di Luwuk. Sepanjang jalan, Anda bisa memuaskan mata dengan laut yang warnanya bergradasi dan pasir putih tentunya. Umm, mungkin lebih tepat disebut kerikil putih. Jika punya banyak waktu, Anda bisa menunggu matahari ditelan laut ditemani dengan pisang goreng yang baru saja diangkat dari minyak panas. Hahuhahu... Dan jangan lupa sambalnya! Pedis yang membuat Anda menangis, tapi keinginan untuk tambah lagi dan lagi semakin membuat Anda meringis. :9 Karena matahari tepat bertengger di atas kepala, mari lupakan untuk berleha-leha. Penumpang punya waktu sekitar satu jam untuk istirahat. Saya sempat meng-update foto saking punya terlalu banyak waktu untuk sekadar shalat dan makan. Pukul dua, mobil kembali melaju menuju Ampana. Masih ada tiga kecamatan ‘terkenal’ yang harus dilewati; Pagimana, Bunta, dan Nuhon. Saat senja, mobil masih terjebak di jalan yang tak mulus di kecamatan Nuhon. Saya bertanya berapa jam lagi untuk sampai di Ampana, dan supir hanya menjawab “Sabar saja ya?!” Whatta absurd answer!!! Tapi seorang penumpang yang duduk di kursi di belakangku dengan senang hati menjawab, “Sekitar 3 jam lagi, Mba.” What?????

Adzan magrib sudah lama berlalu. Kanan kiri jalan mulai gelap sempurna. Tak ada lagi indahnya batas laut dan langit yang sedari tadi menemani perjalananku. Saya bertelepon ria dengan seorang teman kuliah yang akan menjadi travelmate-ku nanti. Kristi namanya. Dia sudah sejak sore tiba dari Poso. Dia menyuruhku mengecek kapal ferry di pelabuhan Uebone, sebuah daerah yang akan saya lewati sebelum memasuki daerah Ampana kota. Ia sudah mencari tahu jadwal kapal di pelabuhan Ampana dan ternyata tak ada kapal yang menyeberang ke Wakai besok. Saya juga baru mengetahui tentang perbedaan pelabuhan ferry dan kapal kayu seperti KM Puspitasari dan KM Lumba-Lumba. Di beberapa blog yang pernah saya baca, mereka hanya menulis jadwal kapal tanpa memberi info letak pelabuhan yang ternyata berbeda. Jaraknya cukup jauh, sekitar 20 menit antar kedua pelabuhan tersebut.

KMP Tuna Tomini
Jika ingin naik kapal yang nyaman dengan harga murah, silakan pilih ferry KM Tuna Tomini. Dengan Rp 45.000,- Anda bisa duduk nyaman di kursi (lumayan) empuk. Ada tiga kelas dengan harga yang sama untuk rute Ampana – Wakai. Kelas ekonomi dengan AC plus C aka Angin Cepoi Cepoi dan kursi (agak) empuk serta TV 21”, kelas Bisnis 1 dengan ruangan tertutup dan pendingin udara, pastinya bebas asap rokok, dan fasilitas karaoke lagu-lagu jadul, serta sandaran kursi yang adjustable, sehingga memungkinkan penumpang untuk menyetelnya agar bisa tidur telentang. Hanya saja, karena fasilitas karaoke biasa dipakai para ABK dan penumpang, kabin luas dan tertutup ini agak ribut. Terakhir ada kelas bisnis 2 yang lebih nyaman untuk keluarga. Istilahnya, kelas tatami. Di situ, tersedia tempat luas untuk menggelar kasur kapal. Penumpang yang membawa balita biasanya lebih memilih kelas ini agar bisa tidur dengan nyaman. Selain AC plus C, ada juga tambahan kipas angin di dua sisi dinding pada kelas ini. Untuk toilet, tidak perlu khawatir. Setidaknya, jika dibandingkan dengan toilet umum di terminal-terminal, di kapal ini lebih manusiawi. Asal tidak nekat ‘menyetor’ saat ombaknya sedikit besar, Anda bisa keluar dengan selamat. :D

Tarif KMP Tuna Tomini
Ferry Tuna Tomini ini berangkat ke Wakai setiap hari Kamis dan Minggu. Jika Anda akan menyeberang selain dua hari itu, maka pilihannya jatuh pada kapal kayu yang berangkat di pelabuhan Ampana Kota. Tidak sulit mencari pelabuhan ini. Aksesnya dekat dengan terminal. Ada dua kapal yang biasanya melayani rute Ampana – Wakai; KM Puspitasari dan KM Lumba-Lumba. Jika ingin tempat yang sedikit lebih nyaman, silakan pilih Lumba-Lumba. Namun jika ingin kapal yang lebih cepat, Puspitasari adalah pilihan yang tepat. Harga tiketnya Rp 50.000. Jangan berharap bisa duduk nyaman di sini. Sebab yang tersedia hanya kelas ‘tatami’, menggoler bebas di ‘tempat tidur’ dua susun. Atau, silakan pilih tempat duduk di luar beratapkan langit. :D

Setelah memastikan ada kapal yang asyik nongkrong di dermaga, saya pun melanjutkan perjalanan. Rumah senior yang saya tuju. Namanya Pak Ferdian. Temanku, Kristi, baru mengenalnya di Distamben Kab. Poso, ketika dia mendapat proyek di sana. Rumah itu sejatinya hanya ditinggali oleh kedua orang tua Pak Ferdian, karena beliau sudah menetap di Poso bersama keluarganya, dan adiknya, Alim, sedang kuliah di Palu. Tapi ternyata Alim sedang dalam masa libur kuliah, sehingga bisa tinggal lebih lama di Ampana. Pukul delapan malam, Kristi dan Alim sudah menunggu di depan rumah setelah perbincangan sengit di telepon dengan supir mobil yang saya tumpangi. Finally, mana kasur???


Berbekal informasi di blog-blog tentang jam berangkat kapal, pukul 08.30 kami berangkat ke pelabuhan Uebone. Alim dan ibunya berbaik hati mengantar. Tiba di sana, kami langsung ke loket penjualan tiket. Pukul 10 pagi tepat, berangkaaat... Penumpang tidak begitu banyak. Masih banyak kursi kosong sehingga satu penumpang bisa memakai tiga sampai empat kursi untuk tidur nyaman. Di bawah pun, kendaraan hanya beberapa. Ada tiga truk sedang dan motor yang tak sampai 20 unit. Perjalanan 5 jam dimanjakan dengan angin laut dan ombak yang tenang. Setelah sibuk berfoto di sana-sini, pada akhirnya, kami balas dendam untuk tidur karena malam sebelumnya disibukkan dengan cerita ala gadis remaja. Ecieee… :D
Gagahnya merah putih di antara biru
Panas-panasan tetep eksis, GIRLS!!!
Gimana bisa mengabaikan pemandangan kayak gini? :3

"Tak pernah cukup untuk mengagumi keindahan dari screen gadget. Karenanya saya bertekad untuk nekat." - @Amy_AWP 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar