Pagiiiiii!!! Sarapan ala
Indonesia dengan sentuhan barat? Ada dadar pisang dan kopi atau teh yang bisa
sepuasnya dibuat. Sebenarnya kami berencana untuk full day trip. Biayanya?
Sekitar Rp 150.000 per orang, jika peserta trip-nya enam orang. Karena hari itu
yang beminat hanya kami berdua, maka kami tangguhkan dulu sampai keesokan
harinya, mengingat ada keluarga Italia yang akan ikut pada hari selanjutnya.
Tak mau menyia-nyiakan setiap detik yang terlalu berharga di sini, Mr. Aslan
mengajak kami ke Pulau Taipi. Hanya sekitar 30 menit untuk ke pulau ini.
Ready? I am, Captain!
|
Di Pulau Taipi dulunya ada resort
milik Kadidiri Paradise, tapi entah kenapa ditinggalkan. Padahal untuk akses
sinyal, di sini sangat mumpuni. Ditambah lagi ada spot bagus untuk diving:
Taipi Wall. Sekarang yang terlihat hanya tinggal bangunan-bangunan tampak masih
layak huni. Suatu saat nanti, jika butuh pulau untuk camping, mungkin saya bisa
rekomendasikan pulau ini. J
| Pulau Taipi di ujung pandangan |
Setelah Kristi dan Mr. Aslan
berkencan dengan gadget masing-masing, kami pun bersiap untuk snorkeling.
Kristi menyewa snorkel dan mask di Lestari dengan harga sewa Rp 25.000 per
hari. Saya? Tentu saja dengan alat pribadi. Ini adalah snorkeling perdana
dengan gear milik sendiri dan TANPA LIFE JACKET. Catat ya?! Tanpa life jacket.
Tadinya, saya mau menyewa life jacket di Kadidiri Paradise seharga Rp 20.000
per hari karena di Lestari tidak ada fasilitas itu. Tapi karena satu dan lain,
akhirnya batal. Dan terima kasih kepada ‘satu dan lain hal’ itu, finally saya
buktikan teori bahwa massa jenis seorang Amy lebih kecil dari massa jenis air.
Hahaha. Dan bahwa teori kaki bebek atau katak itu juga benar adanya. Saya
bahkan hampir tidak bisa beranjak dari tempat awal saya mengapung jika tak
dibantu oleh fin. Tapi dengan fin, selama hampir tiga jam, kami bisa
mengelilingi separuh pulau. :D Soal keindahan bawah lautnya, jangan tanya saya.
Saya hanya bisa sebatas mengagumi tanpa tahu jenis organisme di dalamnya. Ikan
warna-warni? Ada. Bintang laut? Ada. Terumbu karang cantik? Ada. :) Sayang, karena tak ada fasilitas kamera underwater, kami tak bisa mengabadikan kecantikannya. Tapi, bukankah mata manusia adalah kamera paling sempurna? :D
Karena perbekalan yang terbatas
pada cemilan-cemilan tak mengenyangkan, kami memutuskan untuk pulang,
bersih-bersih, makan siang, lalu tiduuuuuur. Snorkeling perdana cukup membuat
badan pegal-pegal, bahkan untuk seorang perenang sekelas Kristi. :D
![]() |
| Siap-siap pulaaaang... makan :D |
Sejatinya tak perlu jauh-jauh
untuk dapat pemandangan bawah air yang bagus, karena ‘halaman depan’ cottage
pun sudah luar biasa. Matahari perlahan turun ke barat. Kembali kami mengenakan
gear, lalu berjalan mundur. Dekat pantai, laut memang terlalu dangkal untuk
direnangi. Dan masih banyak karang tajam yang akan menghambat gerak kami. Itu
yang saya sadari setelah beberapa meter mencoba keluar dari laut dangkal itu
dan mendapati kakiku penuh luka tergores karang. Seharusnya kami mengikuti
jalur masuk perahu, tapi karena saya agak ‘kampungan’ melihat air laut yang
jernih, yaaah… L
Satu jam lebih keliling ‘halaman
depan’ cottage, awan masih juga menggantung di cakrawala. Kami melewatkan
sunset kedua. Dan setelah itu pun, awan masih tak beranjak. Hujan. Kami
men-charge energy untuk full day trip keesokan harinya.
![]() | ||
Bahkan jingga yang gagal masih tetap indah
|




Tidak ada komentar:
Posting Komentar