Pukul delapan, harusnya. Tapi
barang-barang keluarga Italia sepertinya terlalu banyak untuk bisa di-pack
dalam waktu… banyak jam. 08.45 akhirnya perahu melaju. Dengan mesin berkekuatan
16 HP, hampir dua jam kami – saya, Kristi, Mr. Leo dan istrinya, serta Chiara
dan Mario – diombang-ambingkan
gelombang.
 |
| Menyempatkan mencari signal sebelum pergi |
 |
| Dermaga Kadidiri Paradise yang panjaaang |
Tak terlalu tenang rupanya. Tujuan pertama adalah Hotel
California. Jangan membayangkan sebuah hotel yang benar-beanr hotel. Sampai saat ini pun saya belum tahu alasan penamaan itu. Tapi, jangan salah. Sejatinya ini bisa jadi hotel paling indah di dunia (kemudian memberikan tanda bintang di akhir pernyataanku tadi sebagai keterangan 'syarat dan ketentuan berlaku'). Bayangkan saja! Di tengah-tengah laut, Anda bisa melihat ombak memecah seperti di tepi pantai dari atas shelter yang... umm... mungkin kokoh. Dan ini adalah kerajaan atol yang paling indah di sini. Jadi, betapa menakjubkan ‘halaman rumah’nya! Berbagai karang cantik yang menjadi rumah-rumah ikan yang
tak kalah cantik. Sempurna!!!
 |
| Hotel California |
 |
Siap-siap nyemplung
 |
Jumping the bamboo
 |
 |
| Mengapung bebas |
|
Puas berhangat-hangat di air
laut, kami harus berdingin-dingin diterpa angin. Perjalanan dilanjutkan ke
Pulau Papan. Rumah bagi suku Bajo yang hanya mengandalkan tiang-tiang kayu di
atas laut yang tenang. Yang terkenal? Tentu saja pemandangan dari bukit
batugamping yang menyuguhkan ratusan bilah papan yang dijalin menuju pulau di
sebelahnya; Pulau Malenge. Jembatan papan itu tampak rapuh dengan jeda antar
papan yang lumayan membuat saya bergidik. Tapi anak-anak Pulau Papan harus
melewati itu setiap hari untuk pergi dan pulang sekolah karena satu-satunya
sekolah ada di Pulau Malenge.
 |
| Pulau Papan di ujung pandangan |
 |
Merapaaat...
 |
| Jembatan Pulau Papan - Pulau Malenge |
|
 |
Salah satu sisi Pulau Papan dari puncak bukit batugamping
|
 |
| Tampak Pondok Lestari Malenge dari jauh |
 |
Sisi lain Pulau Papan
 |
| Meski panas, tetap eksis :3 |
|
Hampir satu jam sebelum kami
disambut anak-anak kecil Suku Bajo yang tersenyum lebar menunggu perahu kami
merapat. Tentu saja keluarga Italia itu medapat perhatian lebih. Setelah
mencari rumah yang akan mereka tumpangi untuk entah berapa hari ke depan, kami
menyantap makan siang terenak yang pernah ada: mie goreng instan dengan cabe
rawit yang banyak, telur dadar goreng yang dibumbui, dan lalampa – sejenis
gogos atau nasi ketan yang dibungkus daun pisang dengan abon ikan di tengahnya
lalu dibakar di atas bara. Kenapa paling enak? Karena ikan terlalu mainstream
dan spicy food terlalu rare, serta bonus pemandangan yang terlalu sayang untuk
dilewatkan, bahkan untuk berkedip. Foto-foto pun rasanya tak cukup menjadi
bukti. Tak lupa kami berfoto bersama keluarga Mr. Leo. Lucunya, Chiara dan
Mario begitu susah untuk diajak berfoto. Mr. Leo bahkan menjuluki dua anaknya
‘wild animal’. “Don’t surprised if they
don’t wanna make a pic with you. They’re wild animal. Chiara is wild donkey and
Mario is wild shark.” :D
 |
| Jembatan antar pulau |
 |
| Makan siang kita... |
 |
| Tempat parkir perahu :D |
 |
| View dari 'resto' Pulau Papan |
 |
| Chiara dan Mario |
 |
Foto dulu sebelum ditinggal
|
Ternyata untuk hal-hal
menakjubkan, waktu tak bisa berkompromi. Hampir pukul tiga, kami bersiap-siap
meninggalkan Pulau Papan. Danau ubur-ubur menunggu, kawan-kawan!!! Perjalanan
yang panjang untuk sampai ke danau itu. Saya bahkan sempat tidur di atas
perahu. Tapi semakin dekat, semakin banyak hal yang bisa dilihat. Kami melewati
Bolilanga Resort, Fadhila Resort, desa Katupat, sebelum sampai di danau
ubur-ubur. Matahari sudah beranjak ke barat, membuat danau itu terlihat sedikit
menakutkan karena agak gelap. Dan sebagai pemula di bidang renang-berenang,
saya takut tenggelam mengingat kadar garam yang mungkin saja tidak ada. Air
hijau pekatnya bahkan membuat saya gugup. Tapi kalau rasa penasaran sudah ada
di ubun-ubun kepala, hal yang bisa saya lakukan adalah memasang gear dengan
cepat lalu… Aaah, ternyata airnya asin seperti air laut. :D Mungkin karena litologi yang mengelilinginya adalah batugamping, jadi air dari luar lebih gampang masuk lewat pori-pori batuan. Tapi keruhnya air danau sanggup membuat Kristi yang sudah mahir berenang naik lebih cepat. Di tepian, tak terlalu banyak ubur-ubur yang bisa dilihat. Tapi semakin ke tengah, jangan tanya berapa banyak ubur-ubur yang berenang di sekitar. Menakjubkan! Tubuh mereka terasa rapuh. Kenyal dan berlendir. Menyentuh mereka membuat saya ingat rumah. Iya, saya ingat tontonan pagiku di televisi: serial kartun Spongebob. :D
 |
| Jellyfish lake |
 |
| Amy-nya nakal, kaka... :3 |
 |
| Dikerjain :/ |
 |
| Bye-bye, Jellyfish :* |
Tak lama di danau, kami pun melanjutkan
perjalanan ke pantai yang tak jauh dari danau. Pantai Karina namanya. Pantai
ini cocok untuk sekadar bermain pasir, karena jarak antara bibir pantai dan
terumbu karang lumayan jauh. Air lautnya jernih. Pasirnya
putih dan halus. Sayang, kami tak sempat mengambil banyak foto di sini. Kamera lowbatt :( jadinya hanya bisa bermain sepuas hati :D
 |
| Sibuk sendiri di Pantai Karina |
Masih ingin berlama-lama, sekalian belajar berenang tanpa fin,
tapi gelap mulai menyapa. Akhirnya, perahu melaju ke barat, seakan mengantar
matahari tidur di balik horizon. Sekitar pukul enam sore, kami menapak lagi di
Pulau Kadidiri. Hari yang luar biasa!!! Berkahnya pun luar biasa. Untuk
perjalanan yang hampir menjadi perjalanan pribadi kami berdua, Rp 150.000
melayang begitu saja dengan santai. Hihihi…
 |
| Mengantar matahari |
"Perjalanan adalah pelajaran bagi setiap apa yang nantinya memenuhi ingatan." - @Amy_AWP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar