Sabtu, 07 September 2013

Floating in Togean (4) : Amazing Places in One Route

Pukul delapan, harusnya. Tapi barang-barang keluarga Italia sepertinya terlalu banyak untuk bisa di-pack dalam waktu… banyak jam. 08.45 akhirnya perahu melaju. Dengan mesin berkekuatan 16 HP, hampir dua jam kami – saya, Kristi, Mr. Leo dan istrinya, serta Chiara dan Mario – diombang-ambingkan  gelombang.

Menyempatkan mencari signal sebelum pergi
Dermaga Kadidiri Paradise yang panjaaang
Tak terlalu tenang rupanya. Tujuan pertama adalah Hotel California. Jangan membayangkan sebuah hotel yang benar-beanr hotel. Sampai saat ini pun saya belum tahu alasan penamaan itu. Tapi, jangan salah. Sejatinya ini bisa jadi hotel paling indah di dunia (kemudian memberikan tanda bintang di akhir pernyataanku tadi sebagai keterangan 'syarat dan ketentuan berlaku'). Bayangkan saja! Di tengah-tengah laut, Anda bisa melihat ombak memecah seperti di tepi pantai dari atas shelter yang... umm... mungkin kokoh. Dan ini adalah kerajaan atol yang paling indah di sini. Jadi, betapa menakjubkan ‘halaman rumah’nya! Berbagai karang cantik yang menjadi rumah-rumah ikan yang tak kalah cantik. Sempurna!!!

Hotel California

Siap-siap nyemplung

Jumping the bamboo


Mengapung bebas
Puas berhangat-hangat di air laut, kami harus berdingin-dingin diterpa angin. Perjalanan dilanjutkan ke Pulau Papan. Rumah bagi suku Bajo yang hanya mengandalkan tiang-tiang kayu di atas laut yang tenang. Yang terkenal? Tentu saja pemandangan dari bukit batugamping yang menyuguhkan ratusan bilah papan yang dijalin menuju pulau di sebelahnya; Pulau Malenge. Jembatan papan itu tampak rapuh dengan jeda antar papan yang lumayan membuat saya bergidik. Tapi anak-anak Pulau Papan harus melewati itu setiap hari untuk pergi dan pulang sekolah karena satu-satunya sekolah ada di Pulau Malenge.

Pulau Papan di ujung pandangan

Merapaaat...

Jembatan Pulau Papan - Pulau Malenge
Salah satu sisi Pulau Papan dari puncak bukit batugamping
Tampak Pondok Lestari Malenge dari jauh
Sisi lain Pulau Papan


Meski panas, tetap eksis :3
Hampir satu jam sebelum kami disambut anak-anak kecil Suku Bajo yang tersenyum lebar menunggu perahu kami merapat. Tentu saja keluarga Italia itu medapat perhatian lebih. Setelah mencari rumah yang akan mereka tumpangi untuk entah berapa hari ke depan, kami menyantap makan siang terenak yang pernah ada: mie goreng instan dengan cabe rawit yang banyak, telur dadar goreng yang dibumbui, dan lalampa – sejenis gogos atau nasi ketan yang dibungkus daun pisang dengan abon ikan di tengahnya lalu dibakar di atas bara. Kenapa paling enak? Karena ikan terlalu mainstream dan spicy food terlalu rare, serta bonus pemandangan yang terlalu sayang untuk dilewatkan, bahkan untuk berkedip. Foto-foto pun rasanya tak cukup menjadi bukti. Tak lupa kami berfoto bersama keluarga Mr. Leo. Lucunya, Chiara dan Mario begitu susah untuk diajak berfoto. Mr. Leo bahkan menjuluki dua anaknya ‘wild animal’. “Don’t surprised if they don’t wanna make a pic with you. They’re wild animal. Chiara is wild donkey and Mario is wild shark.” :D

Jembatan antar pulau

Makan siang kita...

Tempat parkir perahu :D

View dari 'resto' Pulau Papan

Chiara dan Mario
Foto dulu sebelum ditinggal
Ternyata untuk hal-hal menakjubkan, waktu tak bisa berkompromi. Hampir pukul tiga, kami bersiap-siap meninggalkan Pulau Papan. Danau ubur-ubur menunggu, kawan-kawan!!! Perjalanan yang panjang untuk sampai ke danau itu. Saya bahkan sempat tidur di atas perahu. Tapi semakin dekat, semakin banyak hal yang bisa dilihat. Kami melewati Bolilanga Resort, Fadhila Resort, desa Katupat, sebelum sampai di danau ubur-ubur. Matahari sudah beranjak ke barat, membuat danau itu terlihat sedikit menakutkan karena agak gelap. Dan sebagai pemula di bidang renang-berenang, saya takut tenggelam mengingat kadar garam yang mungkin saja tidak ada. Air hijau pekatnya bahkan membuat saya gugup. Tapi kalau rasa penasaran sudah ada di ubun-ubun kepala, hal yang bisa saya lakukan adalah memasang gear dengan cepat lalu… Aaah, ternyata airnya asin seperti air laut. :D Mungkin karena litologi yang mengelilinginya adalah batugamping, jadi air dari luar lebih gampang masuk lewat pori-pori batuan. Tapi keruhnya air danau sanggup membuat Kristi yang sudah mahir berenang naik lebih cepat. Di tepian, tak terlalu banyak ubur-ubur yang bisa dilihat. Tapi semakin ke tengah, jangan tanya berapa banyak ubur-ubur yang berenang di sekitar. Menakjubkan! Tubuh mereka terasa rapuh. Kenyal dan berlendir. Menyentuh mereka membuat saya ingat rumah. Iya, saya ingat tontonan pagiku di televisi: serial kartun Spongebob. :D
Jellyfish lake

Amy-nya nakal, kaka... :3

Dikerjain :/

Bye-bye, Jellyfish :*
Tak lama di danau, kami pun melanjutkan perjalanan ke pantai yang tak jauh dari danau. Pantai Karina namanya. Pantai ini cocok untuk sekadar bermain pasir, karena jarak antara bibir pantai dan terumbu karang lumayan jauh. Air lautnya jernih. Pasirnya putih dan halus. Sayang, kami tak sempat mengambil banyak foto di sini. Kamera lowbatt :( jadinya hanya bisa bermain sepuas hati :D

Sibuk sendiri di Pantai Karina
Masih ingin berlama-lama, sekalian belajar berenang tanpa fin, tapi gelap mulai menyapa. Akhirnya, perahu melaju ke barat, seakan mengantar matahari tidur di balik horizon. Sekitar pukul enam sore, kami menapak lagi di Pulau Kadidiri. Hari yang luar biasa!!! Berkahnya pun luar biasa. Untuk perjalanan yang hampir menjadi perjalanan pribadi kami berdua, Rp 150.000 melayang begitu saja dengan santai. Hihihi…

Mengantar matahari

"Perjalanan adalah pelajaran bagi setiap apa yang nantinya memenuhi ingatan." - @Amy_AWP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar