Pukul tiga siang dan matahari
masih lucu-lucunya. Perlahan didera warna air yang mulai tampak asing, kapal
merapat ke dermaga. Kristi menghubungi keluarganya yang baru beberapa jam lalu
diketahui bahwa dia ditugaskan di Wakai. Lextito namanya. Setelah kapal
menurunkan pintu raksasanya, semakin jelas terlihat seseorang menunggu kami di
sisi kiri kapal. Berbasa-basi sedikit, kenalan, lalu mengabadikan momen.
Lextito mengajak kami makan siang. Tadinya agak ragu, sebab dari beberapa
referensi, perahu dari cottage yang ada di Pulau Kadidiri – tujuan kami
selanjutnya – tidak akan menunggu lama di pelabuhan. Tapi ternyata rasa lapar
mengalahkan segalanya. Rp 3.000 untuk sewa ojek ke tempat makan enak yang
katanya satu-satunya di Wakai. Please,
are you kidding me? Saya sudah membayangkan ikan bakar dengan dabu-dabu
serta nasi panas yang asapnya masih mengepul. Tapi seketika harapanku kandas.
Pemilik warung, Tante Nina, belum memasak. Jadilah kita beralih ke mie instan
dalam cup. Not bad!
![]() |
| Suasana sesaat setelah pintu kapal dibuka di Pelabuhan Wakai |
Tapi waktu berlalu terlalu cepat.
Setelah makan dan men-jamak qashar-kan shalat, kami dapat informasi bahwa
perahu menuju Kadidiri sudah berangkat. Kabar baiknya, setelah air laut pasang,
ada boat milik black marlin – salah satu cottage di Pulau Kadidiri – yang akan
berangkat untuk mengangkut air tawar. Kami menumpang di situ. Pukul lima sore,
air laut belum cukup pasang untuk boat keluar dari dermaga kayu milik Wakai
Cottage. Tapi pengemudinya berbaik hati ‘memaksakan’ boat melewati air yang
masih cukup dangkal.
Tiga puluh menit dalam perjalanan
awal yang mengagumkan. Alam pun menyambut kami dengan baik. Di sisi kanan dekat
pulau yang entah apa namanya, pelangi tersenyum indah. Selamat datang di surga kecil yang dititipkan Tuhan di bumi-Nya yang
luas!!!
| Pelangi sebagai ucapan selamat datang |
Tiba di Pulau Kadidiri, ada tiga
cottage yang dipisahkan oleh batas semu pasir putihnya. Lestari Cottage, Black
Marlin, dan Kadidiri Paradise. Karena status yang belum menguntungkan, kami
memilih untuk menginap di Lestari. Ada dua tipe kamar dengan harga yang
berbeda; Rp 100.000 untuk kamar tanpa toilet di dalamnya dan Rp 150.000 untuk
kamar dengan toilet di dalamnya. Setelah mempertimbangkan bahwa kami tak
terlalu butuh privasi untuk toilet, kami check-in untuk kamar yang berharga Rp
100.000. Kamarnya sederhana, namun nyaman. Dengan satu tempat tidur besar dan
dilengkapi dengan kelambu, kami bisa tidur nyenyak semalaman.
| Salah satu kamar di Lesstari Cottage |
Di Black Marlin,
harga kamar dimulai dari Rp 200.000. Semua harga kamar di cottage yang ada di
Kep. Togean dihitung per orang per malam dengan fasilitas tiga kali makan. Peak
season biasa terjadi di bulan Juli – Agustus. Jika Anda berniat ke sana pada
bulan-bulan tersebut, ada baiknya untuk melakukan reservasi terlebih dahulu.
Black Marlin dan Kadidiri Paradise sudah memiliki website resmi, yaitu www.blackmarlindiving.com dan www.kadidiriparadise.com. Jika
berniat tinggal di Lestari, silakan hubungi Mr. Aslan di 085399630234.
| Senja pertama dari Pulau Kadidiri |
Senja pertama di Pulau Kadidiri
sangat luar biasa. Kami bahkan sengaja untuk tidak menanggalkan backpack dulu,
takut melewatkan senja yang indah. Karena hari belum cukup gelap, kami
sempatkan berjalan-jalan melewati Black Marlin dan Kadidiri Paradise. Satu hal
yang perlu diwaspadai adalah anjing-anjing di sana – selain di Lestari – sangat
galak. L
Makan malam disajikan di
cafeteria. Semua tamu berkumpul di satu meja. Acara makan juga berarti ajang
perkenalan. Ada seorang Italia ramah bernama Mauro. Dia sudah hampir enam bulan
di Kadidiri. Dia begitu mencintai pulau ini. Ini bukan pertama kalinya dia ke
sini. Sudah lebih dari tiga kali kalau tak salah tangkap ucapannya. Lalu ada
pasangan muda dari Slovenia. Mereka kebetulan satu kapal dengan kami dari
Ampana. Ada juga Pedro, seorang Italia yang galau masalah visa. Ia masih ingin
tinggal lebih lama di sini, tapi menurutnya pihak imigrasi mempersulit
pengurusan visanya. Cmon, Pedro! You
should try to give them more money. Zzzz.
Dan ada keluarga Italia, Mr. Leo dan istrinya, juga dua orang anaknya,
Chiara dan Mario, yang cerewet dengan bahasa mereka. Sayang, mereka tak mau
difoto. L
Menu makannya? Pasti ikan. Karena kebanyakan wisatawan asing tidak suka pedas,
jika ingin menuruti lidah Indonesia, minta saja cabe rawit di dapur. Make yours
by yourself! J
Don’t forget to get information about your day trip.
| 'Selamat senja' dari Kadidiri |
"Bukan tentang waktu yang harus selalu tepat, tapi rasa sesal yang tak perlu ikut merapat." - @Amy_AWP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar