Jumat, 06 September 2013

Floating in Togean (2) : After the Sunny Day, There’s A Fabulous Sunset

Pukul tiga siang dan matahari masih lucu-lucunya. Perlahan didera warna air yang mulai tampak asing, kapal merapat ke dermaga. Kristi menghubungi keluarganya yang baru beberapa jam lalu diketahui bahwa dia ditugaskan di Wakai. Lextito namanya. Setelah kapal menurunkan pintu raksasanya, semakin jelas terlihat seseorang menunggu kami di sisi kiri kapal. Berbasa-basi sedikit, kenalan, lalu mengabadikan momen. Lextito mengajak kami makan siang. Tadinya agak ragu, sebab dari beberapa referensi, perahu dari cottage yang ada di Pulau Kadidiri – tujuan kami selanjutnya – tidak akan menunggu lama di pelabuhan. Tapi ternyata rasa lapar mengalahkan segalanya. Rp 3.000 untuk sewa ojek ke tempat makan enak yang katanya satu-satunya di Wakai. Please, are you kidding me? Saya sudah membayangkan ikan bakar dengan dabu-dabu serta nasi panas yang asapnya masih mengepul. Tapi seketika harapanku kandas. Pemilik warung, Tante Nina, belum memasak. Jadilah kita beralih ke mie instan dalam cup. Not bad!

Suasana sesaat setelah pintu kapal dibuka di Pelabuhan Wakai
Tapi waktu berlalu terlalu cepat. Setelah makan dan men-jamak qashar-kan shalat, kami dapat informasi bahwa perahu menuju Kadidiri sudah berangkat. Kabar baiknya, setelah air laut pasang, ada boat milik black marlin – salah satu cottage di Pulau Kadidiri – yang akan berangkat untuk mengangkut air tawar. Kami menumpang di situ. Pukul lima sore, air laut belum cukup pasang untuk boat keluar dari dermaga kayu milik Wakai Cottage. Tapi pengemudinya berbaik hati ‘memaksakan’ boat melewati air yang masih cukup dangkal.

Tiga puluh menit dalam perjalanan awal yang mengagumkan. Alam pun menyambut kami dengan baik. Di sisi kanan dekat pulau yang entah apa namanya, pelangi tersenyum indah. Selamat datang di surga kecil yang dititipkan Tuhan di bumi-Nya yang luas!!!

Pelangi sebagai ucapan selamat datang
Tiba di Pulau Kadidiri, ada tiga cottage yang dipisahkan oleh batas semu pasir putihnya. Lestari Cottage, Black Marlin, dan Kadidiri Paradise. Karena status yang belum menguntungkan, kami memilih untuk menginap di Lestari. Ada dua tipe kamar dengan harga yang berbeda; Rp 100.000 untuk kamar tanpa toilet di dalamnya dan Rp 150.000 untuk kamar dengan toilet di dalamnya. Setelah mempertimbangkan bahwa kami tak terlalu butuh privasi untuk toilet, kami check-in untuk kamar yang berharga Rp 100.000. Kamarnya sederhana, namun nyaman. Dengan satu tempat tidur besar dan dilengkapi dengan kelambu, kami bisa tidur nyenyak semalaman. 

Salah satu kamar di Lesstari Cottage
Di Black Marlin, harga kamar dimulai dari Rp 200.000. Semua harga kamar di cottage yang ada di Kep. Togean dihitung per orang per malam dengan fasilitas tiga kali makan. Peak season biasa terjadi di bulan Juli – Agustus. Jika Anda berniat ke sana pada bulan-bulan tersebut, ada baiknya untuk melakukan reservasi terlebih dahulu. Black Marlin dan Kadidiri Paradise sudah memiliki website resmi, yaitu www.blackmarlindiving.com dan www.kadidiriparadise.com. Jika berniat tinggal di Lestari, silakan hubungi Mr. Aslan di 085399630234.

Senja pertama dari Pulau Kadidiri

Senja pertama di Pulau Kadidiri sangat luar biasa. Kami bahkan sengaja untuk tidak menanggalkan backpack dulu, takut melewatkan senja yang indah. Karena hari belum cukup gelap, kami sempatkan berjalan-jalan melewati Black Marlin dan Kadidiri Paradise. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah anjing-anjing di sana – selain di Lestari – sangat galak. L


Makan malam disajikan di cafeteria. Semua tamu berkumpul di satu meja. Acara makan juga berarti ajang perkenalan. Ada seorang Italia ramah bernama Mauro. Dia sudah hampir enam bulan di Kadidiri. Dia begitu mencintai pulau ini. Ini bukan pertama kalinya dia ke sini. Sudah lebih dari tiga kali kalau tak salah tangkap ucapannya. Lalu ada pasangan muda dari Slovenia. Mereka kebetulan satu kapal dengan kami dari Ampana. Ada juga Pedro, seorang Italia yang galau masalah visa. Ia masih ingin tinggal lebih lama di sini, tapi menurutnya pihak imigrasi mempersulit pengurusan visanya. Cmon, Pedro! You should try to give them more money. Zzzz.  Dan ada keluarga Italia, Mr. Leo dan istrinya, juga dua orang anaknya, Chiara dan Mario, yang cerewet dengan bahasa mereka. Sayang, mereka tak mau difoto. L Menu makannya? Pasti ikan. Karena kebanyakan wisatawan asing tidak suka pedas, jika ingin menuruti lidah Indonesia, minta saja cabe rawit di dapur. Make yours by yourself! J Don’t forget to get information about your day trip.
'Selamat senja' dari Kadidiri
"Bukan tentang waktu yang harus selalu tepat, tapi rasa sesal yang tak perlu ikut merapat." - @Amy_AWP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar