Dear, Tuan berbaju merah...
Malam itu aku tak sedang mengharapkan sebuah lagu, pun satu pertemuan yang terburu. Malam itu aku hanya tahu lima detik ketika yang berhenti adalah waktu. Malam itu, Tuan, aku ingin berjaga pada setiap pikiran dunia bahwa waktu terus berjalan. Sebab lima detik itu, Tuan, duniaku stagnan. Diam menelusur ujung matamu lewat retinaku yang salah jalur.
Malam itu aku tak sedang membayangkan sebuah romansa, pun bergejolaknya rasa. Malam itu aku hanya tahu lima menit berselang sampai gitarmu datang. Malam itu, Tuan, aku ingin mengalah pada setiap marah perihal irama yang memelan. Sebab lima menit itu, Tuan, duniaku stagnan. Diam menyusup di jeda lelampu yang redup.
Malam itu, terima kasih untuk sebuah lagu. Dan memanggil kenanganku dulu. Malam itu, kuingat kau sebagai hadiah. Mengelus perihku dengan indah.
Terima kasih, kau Tuan berbaju merah.
Luwuk, 16 November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar