Aku menulis ini sekitar dua jam setelah namamu tertulis indah di layar ponselku. Betapa aku merindukan hal kecil seperti itu, tuan. Tapi, hati masih terus gamang. Ada yang membekas di goyahnya perlakuan.
Terlalu gelap di sini, tuan. Apa yang nampak hanya hitam jalanan. Beberapa kali cahaya mengagetkan, sekelebat saja, sampai satu satunya sinar adalah apa yang tepat di depan. Aku berharap kau tidak membaca catatanku seperti itu. Aku ingin kau selalu ada di damainya sore menjelang senja, duduk ramah di depan rumah, sesekali tersenyum pada mereka yang lewat, sembari menatap angin menggoyangkan dedaunan pelan. Aku ingin kau selalu ada di damainya sore menjelang senja, melepas penat tanpa perlu bersusah, dengan catatan ini di depan mata.
Tuan, bagaimana cara menjelaskan ini? Tentang rasa yang tak kunjung mati, tapi dipaksa pergi? Bagaimana aku merelakan waktu yang terbuang dengan ingatan yang tak pernah tenggelam? Aku berharap pada hari ini. Pada hari yang selalu tak pernah alpa mengingatkan kita. Ia yang akan mencari tahu di sepersekian bagian hatimu, adakah ingin untuk mengamini inginku? Di satu purnama setelah ini, adakah kita masih bernama di sini? Suatu hari, tuan, hari seperti ini akan memberiku jawaban. Lewat hari yang acap mengubah rupa, semoga kau pun menolak lupa.
Aku ingin kau selalu ada di damainya sore menjelang senja, mengucapkan selamat tinggal pada setiap duka, dan membentuk pelangimu sendiri di antara udara. Sementara aku bertanya tanya, adakah kau membuka pelan pelan mimpi yang sempat akrab di belakang? Atau aku lancang menebak tentang arah jarum jam yang sempat kau sebut rahmat? Untuk doamu, tuan, ada hangat yang ditindih sujudku dalam aamiin. Maka, berbahagialah. Aku menyumpahimu dengan cinta yang tumpah, berbahagialah.
Di suatu tempat antara Palu-Luwuk, 22 Juli 2013
(y)
BalasHapus